Menu

Mode Gelap
 

Diadra ( Kesalahan Satu Malam ) – 3

- Nusanews.co

26 Nov 2023 17:17 WIB


					Diadra ( Kesalahan Satu Malam ) – 3 Perbesar

“Selamat pak. Istrinya hamil delapan minggu.”

Pria yang usianya diperkirakan sudah melewati setengah abad itu tersenyum sambil menjelaskan visual hitam putih di layar televisi yang tergantung di dinding ruang praktiknya. Prasetya tampak berdiri di samping brankar, menggenggam tangan Annisa yang sudah sadar namun masih agak lemah.

“Kondisi janinnya bagaimana, Dok?” tanya Prasetya. Netranya masih menatap layar, sesekali tersenyum memandang istrinya dengan penuh cinta.

“Kondisinya baik.” Dokter tersenyum, masih menggerakkan transduser di perut bawah Annisa.

“Ma.” Annisa memamerkan senyumannya. Ia sangat bahagia sekali dengan berita kehamilannya. Ini adalah hadiah kedua yang dikirim Tuhan pada keluarganya. Sebelumnya, Calista sudah mewarnai keluarga kecilnya dan bayi ini akan menyempurnakan kebahagiaan mereka.

“Ya, Sayang. Terima kasih.” Prasetya mengusap pelan pucuk kepala Annisa.

Bahagia, tentu saja Prasetya bahagia. Keluarga kecilnya akan kedatangan anggota keluarga baru tujuh bulan ke depan. Menambah sempurna keluarga Wiraguna setelah kemarin sempat kehilangan seorang adik karena harus memisahkan kematian.

“Mama dan Papa pasti senang sekali mendengar berita ini. Setelah dari rumah sakit, kami mampir ke tempat Mama.”

“Iya, Mas.” Annisa menurut. Ibu hamil itu tersenyum saat Prasetya mengecup punggung tangannya sambil menatap calon anak mereka yang masih seukuran kacang merah.

“Aku harap…berita kehamilanmu membuat Mama dan Papa bisa segera bangkit dari kehilangan Pram,” lanjut Prasetya.

“Iya, Mas.” Annisa yang masih lemah hanya bisa tergolek pasrah di atas brankar. Setelah melakukan pemeriksaan, tampak ia harus turun dan berjalan menuju kursi di depan dokter kandungan.

“Jangan terlalu lelah. Banyak istirahat dan konsumsi makanan bergizi. Darah Ibu sedikit rendah. Saya akan meresepkan vitamin dan penambah darah.” Dokter yang lima tahun lalu membantu proses kelahiran Calista itu tersenyum ramah.

“Baik, Dok. Ada celana makannya?” tanya Prasetya.

“Seperti pada umumnya. Hindari makan berpengawet, junkfood, mi instan. Yang terlalu banyak pewarna dan MSG. Perbanyak sayuran, buah-buahan, Bu.” Dokter tersenyum.

“Iya, Dok.” Annisa menjawab sambil mengusap perut ratanya. Ia bahagia, bisa memberi Prasetya seorang anak lagi.

Dokter terlihat menuliskan sesuatu di kertas sebelum menyelipkan di dalam buku ibu hamil milik Annisa.

“Kunjungan bulan berikutnya depan, di akhir bulan saja. Saya potong tiga hari di tanggal 25, 26, dan 27. Sehat-sehat ya Bu.” Dokter itu menyorotmi Prasetya dan Annisa setelah memastikan tidak ada lagi pertanyaan yang dilontarkan pasangan suami istri di hadapannya.

Sepanjang perjalanan menuju kediaman orang tua Prasetya, Annisa terlihat manja. Ibu hamil itu tak rela melepaskan genggaman tangan pada sang suami. Bahkan saat Prasetya harus mencengkeram kemudi, Annisa masih tak mau mengurai pertautan bercinta dengan Prasetya

“Kenapa jadi manja sekali, Sayang?” Prasetya melirik istri yang duduk tenang di sebelahnya. Ia tersenyum menatap perut rata Annisa yang kini sudah berpenghuni. Usaha dan doanya bersama Annisa tidak sia-sia. Tuhan mendengar dan mengabulkannya tepat enam bulan setelah melepas alat kontrasepsi. Mereka dikaruniai anak lagi.

“Memang tidak boleh manja-manja pada suami?” tanya Annisa memainkan detailnya. Wajahnya tampak menggemaskan.

“Tentu saja boleh, Sayang. Kalau tidak manja-manja dengan suamimu… lalu harus manja-manja dengan siapa? Aku juga… kalau tidak memanjakanmu, lalu aku mau memanjakan siapa?” Senyum Prasetya kian lebar.

Berita kehamilan Annisa membuat Prasetya melupakan sejenak. Mengempaskan sementara Diadra dari pikirannya.

“Aku harap yang ini laki-laki, Nis. Lengkap sudah. ​​Sepasang.” Prasetya kembali mengecup punggung tangan Annisa. Seakan tidak cukup menunjukkan rasa cintanya, Prasetya berulang kali memperlakukan Annisa dengan penuh kasih sayang.

Hampir empat puluh lima menit memacu sedan hitamnya membelah jalan ibu kota, kereta besi yang dikendarai Prasetya melambat dan berbelok masuk ke dalam kompleks perumahan mewah di pinggiran Jakarta.

Tak lama kemudian, mobil itu masuk ke halaman rumah dua lantai yang tampak asri. Pohon-pohon pucuk merah yang tajam mengitari halaman rumah. Tanaman pagar itu tampak baru saja dipangkas, terlihat potongan dahan-dahan kecil masih menumpuk di sisi kiri halaman.

“Ayo, Sayang.” Prasetya turun, buru-buru menemui istrinya yang terlihat lemah tak bertenaga.

“Hati-hati.” Prasetya mendekap erat istrinya seolah takut akan terjatuh dan pecah berantakan di lantai.

“Mas, nggak perlu berlebihan. Aku nggak selemah itu,” omel Annisa saat melihat sikap posesif Prasetya yang tak pada tempatnya.

“Ada bayiku di dalamnya, tentu saja aku harus menjagamu dengan baik.” Prasetya mengeratkan dekapannya pada pinggang ramping Annisa.

Melangkah pelan, menapaki anak tangga yang membawa ke teras rumah, Prasetya terlihat sangat hati-hati menggandeng istri masuk ke kediaman orang tua.

Berita bahagia yang akan dibagikannya membuat bibir pria itu tidak bisa mengatup sejak tadi. Namun senyuman di wajah Prasetya hilang dalam sekejap saat ia dan Annisa melangkah masuk ke ruang tamu. Pria itu mematung saat membuka kunci pada wanita cantik dengan gaun biru muda yang tengah menangis di dekapan mamanya.

“Dia….” Bibir Prasetya tanpa sengaja mengucapkan nama itu pelan.

Jantung Prasetya berdegup kencang bersama dengan langkah kaki kian mendekat. Isak itu terdengar memilukan. Prasetya ketakutan, mengingat panik di balik wajah datarnya.

“Tangis apa ini, Dia?” Prasetya membatin. Detak jantungnya semakin tak beraturan saat Annisa lepas dari dekapannya dan bergerak maju. Istrinya menyatu dengan suara tangis Mama dan Diadra yang bersahut-sahutan.

“Apa…jangan-jangan Diadra mengadu pada Mama tentang kejadian semalam. Tidak! Habis sudah rumah tanggaku. Diadra tidak boleh melakukannya. Aku tidak bisa berpisah dari Annisa dan Callista. Apalagi saat ini Annisa sedang mengandung buah hati kami.”

“Ma….” Prasetya menyapa, tidak gugupnya.

“Nis, Pras, kalian datang.” Perempuan paruh baya itu mengusap air mata yang membanjiri pipinya dengan kasar. Sedikit terhibur dengan kedatangan anak dan menantunya.

“Iya, Ma,” sahut Pram. Netra pria itu masih memandang ke arah punggung Diadra.

“Di mana Calista? Kenapa tidak ikut?” tanya Nyonya Wiraguna. Terlihat ia mengedarkan bintik-bintik, mencari keberadaan cucu satu-satunya.

“Calista tidak ikut, Ma. Dia ditinggal di rumah bersama asisten. Tadi, aku dan Annisa ke rumah sakit. Annisa sedang tidak enak badan.” Prasetya menjelaskan. Pandangan pria itu masih belum berubah dari Diadra yang membelakanginya.

“Kamu sakit apa, Nis?” tanya sang mama mertua.

Diadra berbalik. Berita sakitnya Annisa membuat gadis muda itu berubah.

“Mbak Annisa sakit apa?” tanya Diadra lembut.

Annisa tersenyum. Berbalik menatap suaminya meminta pendapat. Setelah melihat anggukan setuju Prasetya, Annisa pun bersuara.

“Ma, aku hamil lagi. Sudah jalan delapan minggu.” Annisa membagi kabar bahagianya.

Mama mertuanya terkejut. Kesedihan di wajah renta itu berubah menjadi binar kebahagiaan.

“Kamu hamil, Sayang?” tanya Mama Prasetya memastikan.

“Ya, Bu.” Annisa tampak bahagia.

“Ah! Selamat Mbak. Aku akan memiliki keponakan baru lagi.” Diadra bangkit dan memeluk Annisa.

“Sehat-sehat, Mbak.” Diadra mengusap perut rata Annisa.

“Terima kasih, Dia. Kamu juga kuat, Sayang.” Annisa memeluk ikut setelah kemarin tidak sempat menemani Diadra ke pemakaman.

“Iya, Mbak.” Diadra kembali bersedih. Wajah berjejak air mata itu kini meredup.

“Yang kuat ya, Dia. Kamu itu sudah seperti keluargaku. Aku menganggapmu seperti adikku sendiri.” Annisa menghapus air matanya yang membanjiri pipi Diadra.

Ia sangat paham dengan apa yangg dirasakan Diadra saat ini. Kehilangan itu masih mengejutkan, bukan hanya Diadra bahkan keluarga besar Wiraguna yang masih berduka.

Prasetya yang sejak tadi diam, terkejut saat melibat koper mungil berwarna merah muda di perdamaian.

“Ini milik siapa?” tanya Prasetya, mengalihkan pembicaraan.

“Oh, itu milik Diadra. Putriku ke sini untuk mengembalikan kunci apartemen milik Pramana dan mau berpamitan. Tolong bujuk Dia, Pras. Mama tidak rela melepaskannya. Setelah kehilangan Pramana, tidak mungkin Mama harus kehilangan Diadra. Apa yang memikirkan Pramana. sepertinya harusnya kita menjaga Diadra di keluarga kita setidaknya sampai dia menemukan pria baik yang akan menggantikan tugas Pramana untuk menjaganya.”

Prasetya terkejut. “Kamu mau ke mana, Dia?” Pria itu teringat kalau Diadra sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.

 

Penulis : Casanova

Sumber : Facebook (Amaliyah Aly)

Baca Lainnya

Program Majelis Taklim Bertaawun Implementasikan Santunan Muharram di MT Baiturrahman

17 July 2024 - 06:03 WIB

Iwan Fals Legendaris Musik Tanah Air Manggung Di Serang

14 July 2024 - 01:13 WIB

Jaga Kekompakan , Keluarga Besar H Rusbad Liburan ke Jawa Barat

10 July 2024 - 00:31 WIB

Stop Narkoba, Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional 2024 Di Lapas

6 July 2024 - 05:47 WIB

HIMAKEM Gelar Public Healt Event

30 June 2024 - 10:44 WIB

Disdikpora Kabupaten Pandeglang Gelar Senam Sehat dan Bahagia

30 June 2024 - 10:39 WIB

Trending di Bola & Sports